Diteras rumah, aku duduk ditemani sepi bersama secangkir air putih, sembari menatap purnama yang benderang. Ku nikmati angin malam dengan lambaian pohon kelapa yang tumbuh menjulang tinggi. Semilir bayu dihari itu sampai-sampai lupa bahwa waktu sebenarnya mulai larut. Begitu nikmatnya, hingga pada akhirnya aku tidur bertemankan mimpi.
Tak selang berapa lama, ada seseorang yang memanggilku dengan lembut dari balik jendela. Sebenarnya samar aku mendengar. Hingga tak membuat aku beranjak dari zona nyaman. Lalu, suara itu semakin kuat terdengar, membuat aku tersentak dan lenyap semua jejak cerita dalam mimpi.
Ternyata dia yang membangunkan aku dari mimpi indahku. Dia, seseorang yang senantiasa bersamaku, menemani hari-hariku, juga sebagai tempat menampung cerita dalam hidupku. Dan dia pula-lah yang merupakan seseorang yang hadir dalam mimpiku itu.
Mimpi,,,merupakan kisah perjalanan yang terjadi di alam bawah sadar. Terkadang mimpi memberikan kesan takut, gembira, dan tak luput pula terkadang ia menyebabkan butiran bening itu tumpah. Padahal sebenarnya, itu tak lebih dari bunga tidur saja.
Didalam mimpi tadi, ada cerita indah yang mengingatkan ku akan kisah kecil ku dulu. Kisah dimana aku kerap kali menyusahkan ibu, sibuk bermanja-manja, membuatnya letih, dan kalut dari hari ke hari. Namun tak ada kata sedih baginya dalam merawat diri ini, mendidik, dan ikut bermain disaat aku butuh seorang teman.
Dan disaat aku terbangun tadi, tiba-tiba dihadapanku ada beliau. Hingga ingin rasanya aku memeluk erat tubuhnya. Tapi,,, ah aku malu….Setelah aku memasuki rumah, kususurilah jalan menuju ruang ternyaman dalam rumahku (kamar), dan segera ku rebahkan tubuhku di atas tilam. Tapi, mata ku tak lagi bisa untuk ku bawa tidur. Karena lagi-lagi aku teringat cerita singkat dalam mimpiku tadi. Dan hal itupun menyadarkan aku kembali, bahwa dia masih ada dalam hidupku kini. Dia masih ada didepan mataku, dan masih dapat kusentuh raganya yang kini mulai renta. Sehingga sepatutnya harus ku perlakukanlah ia dengan sebaik-baiknya.
Memori ku terus berputar. Mengulik riwayat yang telah silam. Aku tak mampu memutar waktu, untuk kembali menikmati masa-masa itu. Aku hanya mampu menerima, bahwa diriku kini mulai beranjak dewasa. Bahwa dirinya juga tak lagi muda, dan tak jarang rasa sakit itu menerpa tubuhnya.
Ibu,,, izinkan aku menangis. Izinkanlah air mata ini mengalir dengan derasnya.
Aku malu kepadamu. Engkau sudah begitu baik padaku. Meski tubuhmu kian ringkih, namun kau tetap menjadi orang yang terkuat di hidup ini.
Ibu,,,akankah pintu maaf itu masih terbuka lebar untukku ?.
Apakah masih ada sesal dalam hatimu mengingat aku yang kerap kali tidak mematuhi perintah mu. Apakah masih ingin kau meluapkan kekecewaan mu terhadap aku yang bagai tak punya rasa kasih kepadamu. Sibuk dalam ruang ego ku, hingga tak lagi mendengarkan setiap apa yang terlontar dari mulutmu.
Ibu izinkan aku untuk terus menarikan jemari, demi terselesaikannya goresan pena ini. Meski engkau tak tau, bahwa sebenarnya masih ada titik kasih yang aku peruntukkan bagimu. Biarlah, ku pastikan kelak engkau dapat mengetahuinya.
Duhai ibu,,, betapa durhakanya aku. Aku menyadari, bahwa adabku padamu masih jauh dari sempurna, atau bahkan masih nol besar adanya. Aku sendiri tak mengerti, mengapa sulit untuk memperbaiki diri ini, bingung harus memulainya dari mana.
Ibu,, meski aku sadar, tapi lagi-lagi ku ulangi perbuatan yang sama. Selalu ada penolakkan bila dirimu membutuhkan bantuan. Tak beranjak dari tempat yang sudah lebih dulu membuatku nyaman. Tidak menghiraukan apapun yang engkau mohonkan. Dan sering membuatmu menjadi naik pitam.
Ibu,,,teringin aku bercerita tentang segala apa yang selama ini dirasa. Tentang sakit yang kurasa diakibatkan sikapku terhadap dikau. Teringin aku berujar dari lubuk hati yang paling dalam, bahwa aku tak lagi mau memberikan sekelumit kepedihan. Tapi diri ini begitu malu untuk mengadu, begitu gengsi melontarkan kata-kata itu, jadi kini aku hanya mampu merangkai kata, menyusun cerita, dan mengeja bait aksara. tapi, entah kapan engkau dapat membaca nya.
Ibu,,,yah aku hanya bisa menyadari, dan sering aku mendengar dari para ustadz dan ustadzah, “jangan membantah orang tua nanti diri mu sendiri akan mendapat balasannya. Di dalam al-qur’an saja ada penjelasannya, bahwa hanya dengan kata “ah”, itu sudah merupakan bagian dari durhaka kepada orang tua”.
Seorang ibu memang tak pernah berlarut dalam amarahnya, dan tak pula berlarut dalam kekecewaannya. Ibu adalah seseorang yang mudah dalam membuka gerbang maaf, meski setiap anaknya belum atau tidak pernah memohon maaf. Dan Ibu adalah seorang penyayang, hingga tak kuat ia menahan diri untuk tidak bercengkrama dengan si buah hati.
Ibu,,, memang demikianlah dia, bila kelak kita ingin dihormati dan dipatuhi dengan generasi yang terlahir dari rahim kita nanti, caranya adalah memperbaiki diri, dengan berusaha untuk tidak menyakitinya (ibu) lagi.
Tapi ibu,,,kedekatan kita bagai tiada sekat kan. Meski sering aku menghadirkan amarah, meski sering aku membuat mu bermuram durja. Tapi kebersamaan itu menutupi kelabu di dalam jiwa kita berdua. Ah,,, kita memang demikian, marahan-nya cuma sebentar, diam-diaman-nya bisa dihitung hanya beberapa detik ke depan. Habis itu, tanpa disadari terlontarlah sepatah dua kata dari lisan antara kita, hingga pada akhirnya hilanglah semua gusar dalam jiwa.
Aku bangga pada mu ibu. Engkau tidak hanya merupakan seseorang yang melahirkan dan yang pertama kali mendidik ku. Tapi engkau sudah bagaikan kakak dan teman untukku.
Sering aku mendengar ulasan dari beberapa teman seperjuangan, bahwa mereka sedikit sekali bercerita dengan ibunya. Terlebih tentang perjalanan anak muda zaman sekarang, apalagi kalo bukan kuntum bunga yang sedang didekati oleh kumbang, eh..
Namun ibu, engkau tau kan seperti apa diriku. Aku tak pernah bisa menjaga rahasia dalam hidupku, gemas rasanya ingin bercerita. Meski sudah berusaha untuk diam, tapi tetap saja terlontar juga. Terkadang engkau menyambut celoteh ku dengan senyuman, dan terkadang ada pula nasihat yang engkau selipkan.
Sedari aku dalam buaian hingga kini sudah memasuki ruang perkuliahan, kita masih tetap bersama disini. Masih saling berbagi cinta dan cerita dari balik dinding rumah ini. Meski ayah sudah tak lagi menemani, tapi kita masih bisa hidup di dalam ruang harmoni.
Ibu, maafkan aku juga yang sampai detik ini masih suka bermanja-manja. Meski sudah beranjak dewasa pun, dalam hal makan hanya ingin ku dapati dari suapan tanganmu saja. Maafkan aku yang juga tak bosan menganggu kenikmatan makanmu dikarenakan aku hanya ingin sepiring berdua dengan mu. Aduhai, betapa banyak cerita tentang kita ibu. Sampai-sampai masih ada hal yang hampir terlupa untuk aku abadikan dalam coretan ini.
Ibu, ingatkah engkau waktu diri ku masih berkisar umur 7-8 tahun, waktu itu aku berujar bahwa aku ingin tidur di kamar sendiri, tidak bersama ibu lagi. Tapi setelah aku berada di kamar ku sendiri, engkau tahan tidur di lantai demi untuk tetap bersama denganku. Aku sempat menolak untuk ditemani lagi, tapi engkau tidak menghiraukan apa kata ku. Hingga pada akhirnya sampai detik ini kita masih tetap berada di ruang dan diatas tilam yang sama, juga menatap pelita yang berada di langit-langit bilik rumah kita.
Ibu biarkan aku terus ada didekatmu, tidak sekedar di dunia, namun di persua-kan jua di jannahnya. Duhai ibu,,,mungkin goresan ini akan berakhir sampai disini dulu.
Ingin ku tutup bayangan kisah masa lalu itu, karena bagiku hal lalu biarlah berlalu, biarlah ia hilang bersama waktu. Tapi masa sekarang, adalah masa yang patut untuk di indahkan, agar kelak akan ada lagi goresan yang sarat akan cinta dan keindahannya.
Goresan ini, cukup jadikan ia sebagai bukti, bahwa kisah kita tak hanya ada air mata kepedihan namun ada pula air mata kebahagiaan.
Tak selang berapa lama, ada seseorang yang memanggilku dengan lembut dari balik jendela. Sebenarnya samar aku mendengar. Hingga tak membuat aku beranjak dari zona nyaman. Lalu, suara itu semakin kuat terdengar, membuat aku tersentak dan lenyap semua jejak cerita dalam mimpi.
Ternyata dia yang membangunkan aku dari mimpi indahku. Dia, seseorang yang senantiasa bersamaku, menemani hari-hariku, juga sebagai tempat menampung cerita dalam hidupku. Dan dia pula-lah yang merupakan seseorang yang hadir dalam mimpiku itu.
Mimpi,,,merupakan kisah perjalanan yang terjadi di alam bawah sadar. Terkadang mimpi memberikan kesan takut, gembira, dan tak luput pula terkadang ia menyebabkan butiran bening itu tumpah. Padahal sebenarnya, itu tak lebih dari bunga tidur saja.
Didalam mimpi tadi, ada cerita indah yang mengingatkan ku akan kisah kecil ku dulu. Kisah dimana aku kerap kali menyusahkan ibu, sibuk bermanja-manja, membuatnya letih, dan kalut dari hari ke hari. Namun tak ada kata sedih baginya dalam merawat diri ini, mendidik, dan ikut bermain disaat aku butuh seorang teman.
Dan disaat aku terbangun tadi, tiba-tiba dihadapanku ada beliau. Hingga ingin rasanya aku memeluk erat tubuhnya. Tapi,,, ah aku malu….Setelah aku memasuki rumah, kususurilah jalan menuju ruang ternyaman dalam rumahku (kamar), dan segera ku rebahkan tubuhku di atas tilam. Tapi, mata ku tak lagi bisa untuk ku bawa tidur. Karena lagi-lagi aku teringat cerita singkat dalam mimpiku tadi. Dan hal itupun menyadarkan aku kembali, bahwa dia masih ada dalam hidupku kini. Dia masih ada didepan mataku, dan masih dapat kusentuh raganya yang kini mulai renta. Sehingga sepatutnya harus ku perlakukanlah ia dengan sebaik-baiknya.
Memori ku terus berputar. Mengulik riwayat yang telah silam. Aku tak mampu memutar waktu, untuk kembali menikmati masa-masa itu. Aku hanya mampu menerima, bahwa diriku kini mulai beranjak dewasa. Bahwa dirinya juga tak lagi muda, dan tak jarang rasa sakit itu menerpa tubuhnya.
Ibu,,, izinkan aku menangis. Izinkanlah air mata ini mengalir dengan derasnya.
Aku malu kepadamu. Engkau sudah begitu baik padaku. Meski tubuhmu kian ringkih, namun kau tetap menjadi orang yang terkuat di hidup ini.
Ibu,,,akankah pintu maaf itu masih terbuka lebar untukku ?.
Apakah masih ada sesal dalam hatimu mengingat aku yang kerap kali tidak mematuhi perintah mu. Apakah masih ingin kau meluapkan kekecewaan mu terhadap aku yang bagai tak punya rasa kasih kepadamu. Sibuk dalam ruang ego ku, hingga tak lagi mendengarkan setiap apa yang terlontar dari mulutmu.
Ibu izinkan aku untuk terus menarikan jemari, demi terselesaikannya goresan pena ini. Meski engkau tak tau, bahwa sebenarnya masih ada titik kasih yang aku peruntukkan bagimu. Biarlah, ku pastikan kelak engkau dapat mengetahuinya.
Duhai ibu,,, betapa durhakanya aku. Aku menyadari, bahwa adabku padamu masih jauh dari sempurna, atau bahkan masih nol besar adanya. Aku sendiri tak mengerti, mengapa sulit untuk memperbaiki diri ini, bingung harus memulainya dari mana.
Ibu,, meski aku sadar, tapi lagi-lagi ku ulangi perbuatan yang sama. Selalu ada penolakkan bila dirimu membutuhkan bantuan. Tak beranjak dari tempat yang sudah lebih dulu membuatku nyaman. Tidak menghiraukan apapun yang engkau mohonkan. Dan sering membuatmu menjadi naik pitam.
Ibu,,,teringin aku bercerita tentang segala apa yang selama ini dirasa. Tentang sakit yang kurasa diakibatkan sikapku terhadap dikau. Teringin aku berujar dari lubuk hati yang paling dalam, bahwa aku tak lagi mau memberikan sekelumit kepedihan. Tapi diri ini begitu malu untuk mengadu, begitu gengsi melontarkan kata-kata itu, jadi kini aku hanya mampu merangkai kata, menyusun cerita, dan mengeja bait aksara. tapi, entah kapan engkau dapat membaca nya.
Ibu,,,yah aku hanya bisa menyadari, dan sering aku mendengar dari para ustadz dan ustadzah, “jangan membantah orang tua nanti diri mu sendiri akan mendapat balasannya. Di dalam al-qur’an saja ada penjelasannya, bahwa hanya dengan kata “ah”, itu sudah merupakan bagian dari durhaka kepada orang tua”.
Seorang ibu memang tak pernah berlarut dalam amarahnya, dan tak pula berlarut dalam kekecewaannya. Ibu adalah seseorang yang mudah dalam membuka gerbang maaf, meski setiap anaknya belum atau tidak pernah memohon maaf. Dan Ibu adalah seorang penyayang, hingga tak kuat ia menahan diri untuk tidak bercengkrama dengan si buah hati.
Ibu,,, memang demikianlah dia, bila kelak kita ingin dihormati dan dipatuhi dengan generasi yang terlahir dari rahim kita nanti, caranya adalah memperbaiki diri, dengan berusaha untuk tidak menyakitinya (ibu) lagi.
Tapi ibu,,,kedekatan kita bagai tiada sekat kan. Meski sering aku menghadirkan amarah, meski sering aku membuat mu bermuram durja. Tapi kebersamaan itu menutupi kelabu di dalam jiwa kita berdua. Ah,,, kita memang demikian, marahan-nya cuma sebentar, diam-diaman-nya bisa dihitung hanya beberapa detik ke depan. Habis itu, tanpa disadari terlontarlah sepatah dua kata dari lisan antara kita, hingga pada akhirnya hilanglah semua gusar dalam jiwa.
Aku bangga pada mu ibu. Engkau tidak hanya merupakan seseorang yang melahirkan dan yang pertama kali mendidik ku. Tapi engkau sudah bagaikan kakak dan teman untukku.
Sering aku mendengar ulasan dari beberapa teman seperjuangan, bahwa mereka sedikit sekali bercerita dengan ibunya. Terlebih tentang perjalanan anak muda zaman sekarang, apalagi kalo bukan kuntum bunga yang sedang didekati oleh kumbang, eh..
Namun ibu, engkau tau kan seperti apa diriku. Aku tak pernah bisa menjaga rahasia dalam hidupku, gemas rasanya ingin bercerita. Meski sudah berusaha untuk diam, tapi tetap saja terlontar juga. Terkadang engkau menyambut celoteh ku dengan senyuman, dan terkadang ada pula nasihat yang engkau selipkan.
Sedari aku dalam buaian hingga kini sudah memasuki ruang perkuliahan, kita masih tetap bersama disini. Masih saling berbagi cinta dan cerita dari balik dinding rumah ini. Meski ayah sudah tak lagi menemani, tapi kita masih bisa hidup di dalam ruang harmoni.
Ibu, maafkan aku juga yang sampai detik ini masih suka bermanja-manja. Meski sudah beranjak dewasa pun, dalam hal makan hanya ingin ku dapati dari suapan tanganmu saja. Maafkan aku yang juga tak bosan menganggu kenikmatan makanmu dikarenakan aku hanya ingin sepiring berdua dengan mu. Aduhai, betapa banyak cerita tentang kita ibu. Sampai-sampai masih ada hal yang hampir terlupa untuk aku abadikan dalam coretan ini.
Ibu, ingatkah engkau waktu diri ku masih berkisar umur 7-8 tahun, waktu itu aku berujar bahwa aku ingin tidur di kamar sendiri, tidak bersama ibu lagi. Tapi setelah aku berada di kamar ku sendiri, engkau tahan tidur di lantai demi untuk tetap bersama denganku. Aku sempat menolak untuk ditemani lagi, tapi engkau tidak menghiraukan apa kata ku. Hingga pada akhirnya sampai detik ini kita masih tetap berada di ruang dan diatas tilam yang sama, juga menatap pelita yang berada di langit-langit bilik rumah kita.
Ibu biarkan aku terus ada didekatmu, tidak sekedar di dunia, namun di persua-kan jua di jannahnya. Duhai ibu,,,mungkin goresan ini akan berakhir sampai disini dulu.
Ingin ku tutup bayangan kisah masa lalu itu, karena bagiku hal lalu biarlah berlalu, biarlah ia hilang bersama waktu. Tapi masa sekarang, adalah masa yang patut untuk di indahkan, agar kelak akan ada lagi goresan yang sarat akan cinta dan keindahannya.
Goresan ini, cukup jadikan ia sebagai bukti, bahwa kisah kita tak hanya ada air mata kepedihan namun ada pula air mata kebahagiaan.