Sabtu, 29 Desember 2018

Saatnya Berhenti

Berhenti dalam memikirkan masalah hati.
Menamatkan kisah khayal yang sibuk mengusik semua angan.
Menghentikan semua rasa yang dulu sempat tertanam dalam.

Duhai...
Tadinya ber angan menjadikan kisah Ibunda Fatimah ini sebagai acuan diri dalam menanti sang kekasih, yaitu dengan menantinya dalam diam.

Telah bermacam cara kisah asmara ini di realisasikan.

Menautkan namanya dalam do'a ?
Kini telah menjadi sebuah kenangan.
hanya meninggalkan goresan tak bermakna dalam catatan do'aku di setiap pekan.
Mewariskan ulasan lusuh yang sempat menjadi kawan bagiku dalam meriwayatkan kisah cinta ku yang terpendam.

Sungguh...
Semakin aku berharap, ia semakin jauh yang ku dapat.
Semakin aku mengingat, ia semakin hilang tanpa jejak.

Duhai diri...
Hentikanlah semua angan.
enyahkan ilusi yang justru merusak hati.

Hati...
Yakinlah,,
Bahwa, jikalau yang kamu harapkan itu menjauh.
Berarti ia bukanlah yang terbaik untukmu.

Jikalau yang kamu harapkan itu semakin menjauh.
Berarti Allah menyayangimu dengan menjauhkannya dari dirimu.

Apabila dia tidak dibersamakan denganmu.
Yakinlah, bahwa Allah kan berikan seseorang yang lebih pantas darinya untuk di sandingkan dengan mu.

📝(Ummu Sumayyah)
22 Rabiul Akhir 1440 H|29 Desember 2018 M

Rabu, 12 Desember 2018

Harus Bijak ya

Ada yang mengatakan.
Cukup simpan ilmunya sendiri. Dan amalkan sendiri. Gak usah sibuk ngeposting, daripada banyak yang nganggep kita sok alim, sok suci dan anggapan yang gak mengenakkan lainnya.

Bila itu yang harus di lakukan.
Sama saja kah aku dengan orang yang egois.
Yang tidak membagikan sesuatu yang aku tau.
Tidak membantu mereka, tidak mengajak mereka keluar dari kesalahannya ?. (Perkataan ini bukan menunjukkan aku seorang yang berilmu ya)

Bukankah media sosial kini adalah sesuatu yang sangat di gandrungi ?.
Mulai dari anak kecil sampai yang telah dewasa pun sama, para pengguna medsos semua.

Apa salah jika medsos ini dilakukan dengan baik ?.
Bila yang lain dengan mudahnya memposting berbagai macam foto, video, film yang bisa dikatakan sumber perusak akhlak dan moral.
Apakah disini salah memposting sesuatu yang bermanfaat ?. Mulai dari ceramah-ceramah ustadz, tulisan-tulisannya, dan masih banyak sesuatu yang bermanfaat lainnya.

Bila ada sarana untuk menyebarkannya, kenapa tidak ?.
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Hadist ini menyatakan bahwa ini di tujukan kepada setiap muslim agar sesuatu yang telah rasul sampaikan itu di sampaikan pada yang lain, agar nukilan dari Rasul Sallallahu 'alaihi wassallam dapat segera tersambung dan tersampaikan seluruhnya.

Tetapi bukan berarti dari postingan yang berisikan  dakwah menjadikan pribadi setiap orang itu langsung bisa menjadi ustadz atau ustadzah. Seorang da'i adalah ia yang sudah banyak ilmunya. Bukan cuma mengambil kaidah dari hadist di atas, sehingga menyampaikan dakwah sesuka dan semaunya yang penting ada satu dalil yang mendukung dakwahnya.

Untuk menjadi da'i dalam menyampaikan nash-nash yang ada itu haruslah ia mempunyai kapasitas di dalam dirinya, mulai dari memahami ilmu nahwu (tata bahasa arab), dan beberapa ilmu lainnya, juga mendapat penelaahan dari beberapa orang ahli ilmu, serta memahami mengenai ikhtilaf (perbedaan) yang terjadi di sekitar mereka sehingga dapat terhindar dari berbagai penyimpangan dan pendapat yang salah.

Bukankah media sosial adalah sesuatu yang juga akan dipertanggung jawabkan nantinya di hadapan Allah. Jadi kenapa tidak menjadikannya sebagai ladang pahala ?.

Dari Abu Barzah Al-Aslami, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Sekiranya hadist di atas sudah dapat kita pahami.
Karena setiap postingan, comment, copas, foto, video dan semua yang dapat kita share itu akan ada pertanggungjawabannya. Maka berhati-hatilah dalam menggunakannya.

Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S Qaf : 18
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّالَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
 “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”.

Mau dijadikan apa sosmedmu?.
Ladang pahala apa dosamu ?..

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Seorang muslim yang baik adalah yang membuat kaum muslimin yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang yang benar-benar berhijrah adalah yang meninggalkan segala perkara yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari).

Media sosial adalah sesuatu yang tidak dilarang, tetapi gunakanlah ia dengan bijak. Tidak memberi contoh yang tidak baik kepada para pengguna lainnya dan tidak di jadikan sebagai sarana perusak moral bagi anak-anak bangsa.


dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , dia berkata: “Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

‘Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya’.” (Hadits hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi).




Referensi : https://muslimah.or.id/8790-sosmedmu-surga-dan-nerakamu.html

📝(Ummu Sumayyah)
05 Rabiulakhir 1440 H|12 Desember 2018 M