Jumat, 30 November 2018

Jangan Cuma Ikutan Trend !

Ya inilah zaman dimana kebanyakan orang hijrah hanya mengikuti trend semata.
Ketika baper melanda di saat-saat booming nya video menikah muda.
Bahkan berganti kostum hanya demi popularitas semata.

Ketika hijrah diniatkan agar menjadi terkenal.
Memposting semua selfie wefie and groufienya, agar dapat memotivasi semua orang sejagat raya katanya. Tetapi sangat disayangkan, ketika ilmu mereka sendiri tak diperhatikan.

Ketika hijrah hanya sebagai trend.
Sangat besar kemungkinan banyak yang menyimpang dari berbagai syari'at agama.
Menganggap sesuatu baik, tapi tak tau apakah Allah dan Rasulnya menganggap itu juga baik.

Hadir dalam kajian. Namun hanya sebatas tabligh akbar. Tanpa catatan dan juga rekaman. Menganggap memori ingatan kuat menyimpan.

Hadir di kajian rutin banyak alasan.
Ada yang sibuk bagai menumpuk segudang pekerjaan.

Bercerminlah.
Tanyakan pada hati.
Apakah hijrah ini hanya sebatas trend ataukah ikhlas karena sang illahi.
Pintalah keistiqomahan. Agar senantiasa teguh diatas pendirian.
Tak tergoda rayuan setan dan terjaga dari kefuturan.

📝(Ummu Sumayyah)
22 Rabiul Awwal 1440 H|30 November 2018 M
#Reminders to my self

Rabu, 28 November 2018

Bagai Menemukan Arah Pulang.

Bila ditanya....
Apakah pernah percaya dengan hal-hal yang mistis ?.
Percaya akan ucapan beberapa orang yang terkenal bernamakan paranormal ?.
Percaya dengan mitos yang di ceritakan para tetua dalam keluarga ?.
Percaya akan tahayul, bid'ah, dan khurafat yang merajalela ?.

Mungkin aku adalah salah satunya.
Namun kini ku temukan arah pulang.
Sehabis dilingkupi dengan hal yang berbau kesyirikan, hadirlah satu dakwah yang membuat cintaku jatuh padanya.

Didalamnya penuh dengan kehusyukan, kelembutan, cinta, dan kasih sayang juga penuh dengan kenikmatan serta kebajikkan.

Ya inilah dakwah para salafush shalih yang ku rasa.
Ku nikmati lembar-lembar kitab yang dijelaskan oleh para ustadz dan ustadzah.
Ku usahakan tuk mengerti dengan semua yang telah Allah dan Rasul katakan melalui penjelasan yang disampaikan gamblang oleh mereka. Juga berusaha mengamalkannya perlahan sebisa dan semampunya.

Ketika kitab tauhid yang ku buka. Dan ku baca perlembarnya. Sembari ungkapan lirih yang ku dengar dari para asatidz asatidzah.
Baru ku mengenal semuanya.
Ternyata memang, semua yang dianggap baik oleh kebanyakan manusia belum tentu baik di mata Allah dan Rasulullah.

Syukur ku ucapkan karena ia(Allah) masih memberi ku kesempatan tuk membenahi kesalahan.
Syukur ku haturkan karena ia memilihku dari berjuta-juta orang tuk diberikannya petunjuk yang benar.


Hidayah yang menyapa.
Bagai mentari yang menerangi setelah pupusnya gelap malam.

Namun sejatinya hidayah bukan dinanti.
Tetapi ia harus di cari dan di hampiri.

Mungkin dahulu sinyal hidayah telah diberikan olehnya. Namun aku saja yang tidak peka. Kini ketika ia telah menyapa. Kuharapkan ia tetap selalu ada meliputi tubuh ringkih ini yang kerap berlumur dengan dosa.

Ketika hijrah adalah langkah yang harus di usahakan. Ku kembali berharap keistiqomahan senantiasa menetap direlung hati terdalam.

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Allahumma mushorrifal quluub shorrif  quluubanaa ‘ala tho’atik” [Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!].

📝(Ummu Sumayyah)
20 Rabiul Awwal 1440 H|28 November 2018 M



Jumat, 23 November 2018

Siapa yang lebih dulu datang ?

Apa yang akan kita lakukan?.
Betapa harap yang besar, terhalang karenanya.
Ketika cita-cita mulai terhenti dan hasrat untuk mencinta tak berarti lagi.

Betapa besar semua harap akan dunia.
Mulai dari harta, gelar, tahta. Sehingga mematikan semua bayang
akan kampung halaman yang sebenarnya.

Saat ini hanya ada 2 yang harus di nanti dan ini merupakan takdir yang pasti akan terjadi.
Yaitu jodoh atau maut yang lebih dulu menghampiri.

Apa yang kita harap kini?.
Akankah harapan untuk dunia mulai menepi ?,
jikalau bayang-bayang kematian mulai menyelimuti.

📝(Ummu Sumayyah)
15 Rabiul Awwal 1440 H|23 November 2018 M

Jumat, 16 November 2018

Mengapa cadar ku di hina?

Ketika maraknya wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, tapi tak banyak yang mengingatkan dan menasehati mereka agar berubah.

Ketika akhirnya ada wanita yang senantiasa menjaga auratnya.
Lekuk tubuh yang tak ketara, dengan sehelai kain yang menutup wajahnya.
Banyak yang menganggapnya dengan sebutan yang menyakitkan.

Mengapa cadarku dihina.
Ketika dengannya para wanita terbebas dari fitnah.

Mengapa cadarku dihina.
Ketika dengannya kehormatan wanita tetap terjaga.

Bagi mereka cadarku hanya budaya.
Budaya Arab katanya.
Bagi mereka cadarku hanya penjaga.
Penjaga wajah dari debu katanya.

Akhirnya aku mengerti.
Ternyata islam asing ditengah muslim itu sendiri.

Andai mereka tau dengan kisah Ummul mu'minin.
Yang mana, betapa besarnya penjagaan mereka terhadap diri mereka sendiri.

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri- istri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53)

Di zaman itu saja ketika ingin meminta sesuatu kepada istri-istri nabi harus dibalik tabir. Bagaimana di zaman ini ?. Ketika antara laki-laki dan wanita dapat dengan mudahnya ber interaksi. Tak menutup kemungkinan, bahwa syaithan menggoda.

Ketika kata cinta itu berawal dari mata.
Sudah sepatutnya bahwa wanita itu menutup semua celah yang mendatangkan fitnah bagi dirinya.

Allah berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآب

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14)

Ayat di atas menjelaskan bahwa mencintai wanita dan dunia adalah fitrah manusia. Seorang laki-laki tidak dilarang mencintai wanita selama aplikasi cintanya tidak melanggar syariat. Seorang manusia tidak dilarang mencintai dunia selama kecintaannya tidak mennjerumuskan kepada maksiat. Namun sadarkah, sejatinya di balik keindahan itu semua adalah fitnah (ujian) untuk manusia?

Tak lupa mengenai ungkapan Imam Ibnu Hajar yang selaras dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan dari Usamah Bin Zaid. Beliau bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari: 5096 dan  Muslim: 2740)

Ketika wanita merupakan fitnah terbesar bagi para pria.
Masihkan cadar itu disebut sebagai budaya Arab dan penjaga wajah dari debu dan kotoran saja?.

Dan apabila para istri nabi mengenakannya dengan tujuan menjaga diri dari fitnah. Apakah kami para wanita akhir zaman yang mengenakannya salah?

Referensi 
https://muslim.or.id/19526-wanita-ujian-terbesar-kaum-laki-laki.html

📝(Ummu Sumayyah)
08 Rabiul Awwal 1440 H|16 November 2018 M

Selasa, 13 November 2018

Ketika aku memilih syar'i

Dalam dingin aku dibalutnya.
Dalam panas aku pun didekapnya.
Inilah bagaimana aku merasakan kenikmatan dan kesederhanaan di dalam balutannya.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa warnanya membosankan, kainnya kebesaran, seperti karung berjalan, dan terlihat ribet kalau dikenakan.

Ketika aku memilih syar'i.
Saat inilah aku memahami bahwa kesederhanaan adalah hal yang paling utama.
Bahwa dari kesederhanaanlah akan terlahir kata indah.

Berbeda dengan mereka apabila dalam suatu acara.
Ketika yang lain sibuk dalam berhias tuk mempercantik dirinya.
Disini aku bangga dengan pakaian syar'i yang ada.

Selain sebagai pakaian takwa.
Juga merupakan pakaian penjaga dari mata- mata jahil para pria.

Motif yang tak ada.
Dan warna gelap yang selalu ada, tak lah mempunyai arti bahwa sedang di rundung duka.
Tetapi perhiasan adalah sesuatu yang memang harus di jaga oleh setiap wanita.

Keanggunannya, perhiasannya, kecantikannya, dan kemolekkannya cukup dikhususkan bagi mahramnya saja.

Itulah perhiasan dunia.
Yang senantiasa terjaga.
Walau dinilai aneh dan  misterius oleh manusia.
Tetap saja ia lah yang ter-istimewa.

📝Ummu Sumayyah
05 Rabiul Awwal 1440 H|13 November 2018 M

Prosa Remaja

Bila ditanya perihal cinta.
Ya itu merupakan bahasan yang tak akan ada sudahnya.
Apalagi bila ini menyangkut tentang para remaja.

Wahai teman-temanku sebaya.
Cinta memanglah fitrah setiap manusia.
Dan bila boleh jujur, aku sendiri pun juga pernah merasakannya.

Namun berhati-hatilah darinya.
Karena bisa jadi kita terjerumus ke liang dosa karenanya.
Dan karena cinta pula lah, kebanyakan hati para remaja menjadi gelisah, galau, merana.

Cinta merupakan satu kata penuh makna, tapi juga bisa menghilangkan akal logika bagi setiap hati yang tengah dilanda olehnya.
Apalagi bila saat ini diantara kita sudah ada yang punya.
Kebahagiaan selalu saja terasa dan menganggap bahwa dunia ini hanya milik berdua.

Wahai teman-temanku sebaya.
Bila engkau jatuh cinta, itu taklah salah.
Tapi janganlah engkau mau menjalani hubungan yang diharamkan olehnya.
Bagaimana mau membangun cinta yang indah, bila sebelumnya melakukan hubungan yang tak di ridhainya.

Cukup simpan rasa cintamu, hanya untuk seseorang yang halal untukmu.

Wanita itu bagai kaca.
Ketika kaca telah pecah sulit untuk disatukan dengan sempurna.
Dan wanita, apabila harga diri telah sirna darinya. Maka tak tau apa yang kan terjadi nantinya.
Rasa kecewa, malu, dan stress mulai melanda. Dan akhirnya hidup terasa hampa.

📝(Ummu Sumayyah)
05 Rabiul Awwal 1440 H|13 November 2018 M


Senin, 12 November 2018

Ketika ada kamu bersamaku

Dan akhirnya aku mengerti.
Betapa sulitnya hijrah ini.
Ketika diri harus berdiri sendiri.
Tanpa ada seseorang yang menemani.

Sahabatku...
Ingatkah perjanjian kita dulu.
Bahwa kita akan selalu bersatu.
Pabila banyak yang mencerca ku.
Ada kamu yang menghapus air mata ku.
Dan pabila ada yang menghina mu.
Ada aku yang juga mengasihimu.

Hijrah itu sangat sulit.
Tapi aku yakin, bahwa perih yang terasa akan sirna bila ada seseorang yang siaga menghapusnya.
Aku harap tak ada jarak di antara kita.

Bila akhirnya suatu masalah menimpa kita.
Dan persahabatan kita hampir bersekat karenanya.
Ingatlah kembali perjanjian kita .
Bahwa kita bersama demi menjadi sebaik-baiknya hamba.

Semoga harapanku ini merupakan harapan yang juga terpaut dalam hatimu.
Jangan kecewakan aku.
Dengan perginya kamu dari diriku.

Ketika aku pernah melakukan kesalahan padamu.
Ku harap kata maaf selalu terbuka luas dalam hatimu.

Terimakasih dariku karena sudah menemaniku dalam proses hijrahku.

📝(Ummu Sumayyah)
04 RabiulAwwal 1440 H|12 Novemver 2018 M

Minggu, 11 November 2018

Tinggalkanlah Karena Allah

Dunia Pekerjaan

Banyak pekerjaan yang kita impi-impikan ternyata didalamnya penuh kemudhratan.
Banyak pekerjaan yang kita perjuangkan ternyata mendorong kita menuju ambang pintu jahanam.
.
Masih banyak pekerjaan yang allah ridhoi.
Tetapi kebanyakan dari kita yang tidak mengetahui.
Kebanyakan dari kita terlalu memikirkan nasib duniawi sehingga lupa akan ukhrowi.
.
Yakinlah Allah itu Ar-razaq (Maha pemberi rezeki).
Kenapa takut untuk meninggalkan pekerjaan yang Allah saja tidak meridhai.
Bila kita meninggalkan sesuatu karena Allah.
Maka Allah akan memberikan gantinya yang lebih baik.
.
Masihkan kita meragukannya ?
.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

Adapun mengenai firman Allah Ta’ala,

{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).
.
Orang yang bertakwa itu tidak pernah merasa miskin. Apabila pekerjaan yang kita jalani yang pada kenyataannya Allah benci, Apa masih tetap ingin dijalani ?

📝(Ummu Sumayyah)
03 Rabiul Awwal 1440 H|11 November 2018 M

Ketika Futur Melanda

Wahai diri...
Jangan menganggap remeh dengan keadaan mu sekarang.
Jangan menganggap enteng bila kau merasakan bahwa kau sudah jarang hadir kajian.
Niat awal mu dulu adalah hijrah, yang ingin berubah menjadi sebaik-baiknya hamba.

Wahai diri
Jangan kau diam dan berhenti.
Karena tak kah kau sadari, betapa sulitnya untuk bangkit lagi bila engkau sudah terjatuh berkali- kali.

Dapat diambil contoh
Apabila kau mendaki gunung yang tinggi.
Kemudian kau sudah meniti jauh sekali.
Tiba-tiba kau terjatuh ke bawah lagi.
Apakah kau langsung mendaki kembali dan bisa mencapai ke ketinggian yang telah kau capai tadi?

Sungguh sulit itu terjadi.
Ketika letih telah melanda, tak akan mungkin kau bisa mendaki lagi.

Sama hal nya dengan iman dan takwa.
Sangat sulit itu untuk di ubah, pabila kita diam tanpa usaha.
Maka dari itu ketika futur melanda, ingatlah hari dimana engkau mengenal dakwah, hari dimana engkau berkumpul bersama orang shalih shalihah.

Hijrah itu ibarat meniti anak tangga.
Dimana kita sedikit demi sedikit melangkah demi mencapai puncaknya.
Bukan malah diam tanpa ada perbaikan dalam setiap jengkal langkahnya.

📝(Ummu Sumayyah)
02 Rabiul Awwal 1440 H|10 November 2018 M