Kamis, 09 April 2020

Sampai Bila Untuk Berlabuh

Duhai hati...
Apa yang sekiranya kini terjadi ?.
Dalam liang berkabut dirimu kini.

Duhai...
Apa yang engkau fikirkan mengenai takdirmu esok, dan mengenai siapa yang menjadi akhir penantianmu nanti ?.

Wahai hati...
Bagaimana perihal harapan yang besar ini ?.
Penantian dan harapan telah tersurat dalam goresan singkat ini.

Kini kebingungan telah mengusik semua angan.

Di dermaga mana engkau berhenti ?.
Dia ?, atau yang lainnya ?.

Sampai bila dirimu berlabuh.
Mencari-cari bayangan cinta yang semu.

Duhai pemberi cinta. Sungguh aku hanya mau, disandingkan dengan dia, yang merupakan pilihan mu.


Ahad, 14 Shafar 1441 H || 13 Oktober 2019 M
Amel || ام سمية

Sabtu, 14 Desember 2019

Berakhir di Lembah Rindu


Hanya mampu meninggalkan jejak perasaan
dan berusaha berdamai dengan kenyataan.
Menerima dengan penuh keikhlasan, serta menyambut cerita baru dengan senyum yang menawan.

Mengakhirkan cerita rindu.
Melupakan kisah yang sendu.
Menahan hati untuk tidak lagi merindu.
Dengan seorang yang entah siapa itu.



15 Oktober 2019 M||16 Shafar 1441 H.  
Amel||ام سمية

Sabtu, 07 September 2019

Biarkan aku terus ada didekatmu

        Diteras rumah, aku duduk ditemani sepi bersama secangkir air putih, sembari menatap purnama yang benderang. Ku nikmati angin malam dengan lambaian pohon kelapa yang tumbuh menjulang tinggi. Semilir bayu dihari itu sampai-sampai lupa bahwa waktu sebenarnya mulai larut. Begitu nikmatnya, hingga pada akhirnya aku tidur bertemankan mimpi.
Tak selang berapa lama, ada seseorang yang memanggilku dengan lembut dari balik jendela. Sebenarnya samar aku mendengar. Hingga tak membuat aku beranjak dari zona nyaman. Lalu, suara itu semakin kuat terdengar, membuat aku tersentak dan lenyap semua jejak cerita dalam mimpi.
Ternyata dia yang membangunkan aku dari mimpi indahku. Dia, seseorang yang senantiasa bersamaku, menemani hari-hariku, juga sebagai tempat menampung cerita dalam hidupku. Dan dia pula-lah yang merupakan seseorang yang hadir dalam mimpiku itu.
Mimpi,,,merupakan kisah perjalanan yang terjadi di alam bawah sadar. Terkadang mimpi memberikan kesan takut, gembira, dan tak luput pula terkadang ia menyebabkan butiran bening itu tumpah. Padahal sebenarnya, itu tak lebih dari bunga tidur saja.
Didalam mimpi tadi, ada cerita indah yang mengingatkan ku akan kisah kecil ku dulu. Kisah dimana aku kerap kali menyusahkan ibu, sibuk bermanja-manja, membuatnya letih, dan kalut dari hari ke hari. Namun tak ada kata sedih baginya dalam merawat diri ini, mendidik, dan ikut bermain disaat aku butuh seorang teman.
Dan disaat aku terbangun tadi, tiba-tiba dihadapanku ada beliau. Hingga ingin rasanya aku memeluk erat tubuhnya. Tapi,,, ah aku malu….Setelah aku memasuki rumah, kususurilah jalan menuju ruang ternyaman dalam rumahku (kamar), dan segera ku rebahkan tubuhku di atas tilam. Tapi, mata ku tak lagi bisa untuk ku bawa tidur. Karena lagi-lagi aku teringat cerita singkat dalam mimpiku tadi.  Dan hal itupun menyadarkan aku kembali, bahwa dia masih ada dalam hidupku kini. Dia masih ada didepan mataku, dan masih dapat kusentuh raganya yang kini mulai renta. Sehingga sepatutnya harus ku perlakukanlah ia dengan sebaik-baiknya.
Memori ku terus berputar. Mengulik riwayat yang telah silam. Aku tak mampu memutar waktu, untuk kembali menikmati masa-masa itu. Aku hanya mampu menerima, bahwa diriku kini mulai beranjak dewasa. Bahwa dirinya juga tak lagi muda, dan tak jarang rasa sakit itu menerpa tubuhnya.
Ibu,,, izinkan aku menangis. Izinkanlah air mata ini mengalir dengan derasnya.
Aku malu kepadamu. Engkau sudah begitu baik padaku. Meski tubuhmu kian ringkih, namun kau tetap menjadi orang yang terkuat di hidup ini.
Ibu,,,akankah pintu maaf itu masih terbuka lebar untukku ?.
Apakah masih ada sesal dalam hatimu mengingat aku yang kerap kali tidak mematuhi perintah mu. Apakah masih ingin kau meluapkan kekecewaan mu terhadap aku yang bagai tak punya rasa kasih kepadamu. Sibuk dalam ruang ego ku, hingga tak lagi mendengarkan setiap apa yang terlontar dari mulutmu.
Ibu izinkan aku untuk terus menarikan jemari, demi terselesaikannya goresan pena ini. Meski engkau tak tau, bahwa sebenarnya masih ada titik kasih yang aku peruntukkan bagimu. Biarlah, ku pastikan kelak engkau dapat mengetahuinya.
Duhai ibu,,, betapa durhakanya aku. Aku menyadari, bahwa adabku padamu masih jauh dari sempurna, atau bahkan masih nol besar adanya. Aku sendiri tak mengerti, mengapa sulit untuk memperbaiki diri ini, bingung harus memulainya dari mana.
Ibu,, meski aku sadar, tapi lagi-lagi ku ulangi perbuatan yang sama. Selalu ada penolakkan bila dirimu membutuhkan bantuan. Tak beranjak dari tempat yang sudah lebih dulu membuatku nyaman. Tidak menghiraukan apapun yang engkau mohonkan. Dan sering membuatmu menjadi naik pitam.
Ibu,,,teringin aku bercerita tentang segala apa yang selama ini dirasa. Tentang sakit yang kurasa diakibatkan sikapku terhadap dikau. Teringin aku berujar dari lubuk hati yang paling dalam, bahwa aku tak lagi mau memberikan sekelumit kepedihan. Tapi diri ini begitu malu untuk mengadu, begitu gengsi melontarkan kata-kata itu, jadi kini aku hanya mampu merangkai kata, menyusun cerita, dan mengeja bait aksara. tapi, entah kapan engkau dapat membaca nya.
      Ibu,,,yah aku hanya bisa menyadari, dan sering aku mendengar dari para ustadz dan ustadzah, “jangan membantah orang tua nanti diri mu sendiri akan mendapat balasannya. Di dalam al-qur’an saja ada penjelasannya, bahwa hanya dengan kata “ah”, itu sudah merupakan bagian dari durhaka kepada orang tua”.        
      Seorang ibu memang tak pernah berlarut dalam amarahnya, dan tak pula berlarut dalam kekecewaannya. Ibu adalah seseorang yang mudah dalam membuka gerbang maaf, meski setiap anaknya belum atau tidak pernah memohon maaf. Dan Ibu adalah seorang penyayang, hingga tak kuat ia menahan diri untuk tidak bercengkrama dengan si buah hati.
Ibu,,, memang demikianlah dia, bila kelak kita ingin dihormati dan dipatuhi dengan generasi yang terlahir dari rahim kita nanti, caranya adalah memperbaiki diri, dengan berusaha untuk tidak menyakitinya (ibu) lagi.
Tapi ibu,,,kedekatan kita bagai tiada sekat kan. Meski sering aku menghadirkan amarah, meski sering aku membuat mu bermuram durja. Tapi kebersamaan itu menutupi kelabu di dalam jiwa kita berdua. Ah,,, kita memang demikian, marahan-nya cuma sebentar, diam-diaman-nya bisa dihitung hanya beberapa detik ke depan. Habis itu, tanpa disadari terlontarlah sepatah dua kata dari lisan antara kita, hingga pada akhirnya hilanglah semua gusar dalam jiwa.
Aku bangga pada mu ibu. Engkau tidak hanya merupakan seseorang yang melahirkan dan yang pertama kali mendidik ku. Tapi engkau sudah bagaikan kakak dan teman untukku.
Sering aku mendengar ulasan dari beberapa teman seperjuangan, bahwa mereka sedikit sekali bercerita dengan ibunya. Terlebih tentang perjalanan anak muda zaman sekarang, apalagi kalo bukan kuntum bunga yang sedang didekati oleh kumbang, eh..
Namun ibu, engkau tau kan seperti apa diriku. Aku tak pernah bisa menjaga rahasia dalam hidupku, gemas rasanya ingin bercerita. Meski sudah berusaha untuk diam, tapi tetap saja terlontar juga. Terkadang engkau menyambut celoteh ku dengan senyuman, dan terkadang ada pula nasihat yang engkau selipkan.
Sedari aku dalam buaian hingga kini sudah memasuki ruang perkuliahan, kita masih tetap bersama disini. Masih saling berbagi cinta dan cerita dari balik dinding rumah ini. Meski ayah sudah tak lagi menemani, tapi kita masih bisa hidup di dalam ruang harmoni.
Ibu, maafkan aku juga yang sampai detik ini masih suka bermanja-manja. Meski sudah beranjak dewasa pun, dalam hal makan hanya ingin ku dapati dari suapan tanganmu saja. Maafkan aku yang juga tak bosan menganggu kenikmatan makanmu dikarenakan aku hanya ingin sepiring berdua dengan mu. Aduhai, betapa banyak cerita tentang kita ibu. Sampai-sampai masih ada hal yang hampir terlupa untuk aku abadikan dalam coretan ini.
Ibu, ingatkah engkau waktu diri ku masih berkisar umur 7-8 tahun, waktu itu aku berujar bahwa aku ingin tidur di kamar sendiri, tidak bersama ibu lagi. Tapi setelah aku berada di kamar ku sendiri, engkau tahan tidur di lantai demi untuk tetap bersama denganku. Aku sempat menolak untuk ditemani lagi, tapi engkau tidak menghiraukan apa kata ku. Hingga pada akhirnya sampai detik ini kita masih tetap berada di ruang dan diatas tilam yang sama, juga menatap pelita yang berada di langit-langit bilik rumah kita.
Ibu biarkan aku terus ada didekatmu, tidak sekedar di dunia, namun di persua-kan jua di jannahnya. Duhai ibu,,,mungkin goresan ini akan berakhir sampai disini dulu.
Ingin ku tutup bayangan kisah masa lalu itu, karena bagiku hal lalu biarlah berlalu, biarlah ia hilang bersama waktu. Tapi masa sekarang, adalah masa yang patut untuk di indahkan, agar kelak akan ada lagi goresan yang sarat akan cinta dan keindahannya.
Goresan ini, cukup jadikan ia sebagai bukti, bahwa kisah kita tak hanya ada air mata kepedihan namun ada pula air mata kebahagiaan.

Jumat, 26 Juli 2019

Aku mampu untuk sendiri

Sepertinya akan ada banyak kata yang akan di rangkai lagi. Sebab apa yang terjadi telah membuat diri ber-nostalgia dengan kisah yang dulu sempat menyayat hati.

Dan akhirnya memang benar. Bahwa air mata itu mulai lagi berlinang membasahi pipi.
Dulu,,, adalah saatnya tidak sendiri untuk merasakan segala ujian yang Allah  berikan. ada teman yang senantiasa berada di sisi, sehingga dikala dada terasa sesak merekalah yang menenangkan hati.

Namun kini,  adalah hari dimulainya kisah baru yang mungkin bila dicatat, akan memenuhi setiap lembar buku catatan harianku.
Inilah saatnya aku harus berani menghadapi meski hanya seorang diri.
Berani melangkah sendiri dengan prinsip yang sudah sejak lama digenggam ini.

Tidak patah bila dibentak.
Tidak ciut bila di ancam.

Biarlah, meski kelak tak lagi ada orang yang dapat mendengar curahan hati, masih ada Allah tempat untuk menumpahkan segala cerita atas peristiwa yang terjadi.

26 Juli 2019

Sabtu, 18 Mei 2019

Butuh Sendiri

Terkadang ada diri yang menyukai ketenangan.
Ia jauh dari hingar bingar.
Dan lebih suka tenggelam dalam kesendirian.

Diri itu hanya mengharapkan kedamaian dari suatu tempat yang memberikan berjuta kehangatan.
Tak riuh dengan suara dan canda yang ikut serta.

Diri itu...
Tak dapat ia dipaksa, untuk menjejaki dunia luar sana.
Meski mereka berkata....
Pergilah dari singgasana dan bukalah pagar diri agar tak tertinggal kau oleh zaman yang terus berganti.

Tapi....
Dia hanya suka dengan zona amannya.
Diam ditempat yang terbaik baginya.
Dan menjadikan rumah sebagai ranah bahagianya. Baginya, hanya cukup dengan buku yang ia baca, sudah menjadikan hidupnya terasa lebih bahagia.

Rumah...
Disanalah suka dukanya dan tempat menjaga fitrahnya sebagai wanita.

Jadi,,,
jangan mudah kau memaksa, untuk dia yang tak suka dipaksa.
Biarkan dulu ia habiskan waktunya yang tersuguh.
Karena bahagia mu dan bahagia nya, tak dapat di paksakan tuk bertemu.

Dia begitu bukan untuk memutus ikatan yang telah terbangun sejak dulu. dan tak berniat pula ia memutus tali silaturahim yang juga sudah terjalin sedari dulu.

Pasti ada hari dimana ia tak ingin sendiri dan membutuhkan kalian sebagai partner sejati.
Jikalau tidak di hari ini, mungkin nanti.
So,,, tetaplah berfikir positif terhadapnya.


(Ummu Sumayyah)
13 Ramadhan 1440 H|18 Mei 2019 M

Jumat, 22 Februari 2019

Terwarnai karena pergaulan.

 Telah di katakan di dalam hadist nabi bahwa berhati-hatilah dalam memilih teman.
Karena teman merupakan cerminan bagi pribadi setiap insan.
    Sesuai dalam sabda Rasul Salallahu'alaihi wassallam

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ (أخيه) الْمُؤْمِنِ

Seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin (HR. Al Bukhori dan Abu Dawud)

    Bahkan Rasul pun memperumpakan teman baik seperti penjual minyak wangi, dan teman yang buruk seperti si pandai besi.
Yang mana jikalau berteman dengan penjual minyak wangi, maka kita pun akan mendapat bau harum darinya, dan jikalau bergaul dengan si pandai besi, maka bisa jadi kita akan mendapat bau busuk darinya atau bahkan mendapat percikan api darinya.

   Lalu, bagaimana sekiranya dengan kita?. Sudahkah mendapatkan teman yang tak hanya menjadi sahabat di dunia namun juga di jannahnya ?.

    Teman baik bukan hanya membantu dalam perihal duniawi, bukan pula yang terlalu sering mengajak happy-happy tanpa mengingat akan urusan ukhrowi. Namun teman yang baik ialah dia yang selalu mengajakmu menuju ketaatan, bersama meraih surga Allah dengan meniti jalan ke taman-taman surganya. Refreshingnya berkumpul dengan teman-teman yang shalih dan shalihah, yang ketika masa futurnya tidak lari ke mall atau kongkow-kongkow yang tak ada manfaatnya. Namun masa futurnya kembali kapada Al-Qur'an dan kitab-kitab para ulama.

    Bagaimana dengan yang sudah hijrah. Kemudian ia berbalik haluan. Tadinya ia hidupkan lentera hidayah, kemudian ia dayung perahu keimanan di atas muara kebenaran dengan penuh semangat dan keberanian.
   Ia tersadar akan setiap kesalahan, kemudian ia bangun dari kelalaian, dan mendirikan pagar ketakwaan dengan perlahan dan keyakinan.

    Namun ketika hatinya mulai melemah, dan pagar ketakwaan hampir akan tumbang, Tak segera ia sanggah. Ia mencari teman lama, lalu kembali duduk bersama mereka. Kegiatan harian pun mulai berubah. Hanya tampilan zhahir yang masih ketara.

    Betapa sedihnya bila ternyata kisah ini menimpa diriku. Beranggapan bahwa hati ini kuat dalam menggenggam ilmu yang dahulu di dapatkan. Ingin kembali berkumpul dengan mereka dan yakin pada diri sendiri bahwa nanti bisa mewarnai mereka dengan sedikit bekal ilmu yang di dapatkan. Namun ternyata bukan diri ini yang mewarnai, tapi diri inilah yang terwarnai.

   Semakin jauh dan jauh dari taman-taman surganya.
Telah jarang lagi terdengar nasehat-nasehat ulama.
Dan memudarnya semangat seperti dahulu kala dalam menghadiri rumah-rumah Allah Azza wa jalla.

Inilah mengapa kita harus berhati-hati dalam memilih teman bergaul. Apa yang menurut kita baik, belum tentu Allah anggap baik.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi).

📝Ummu Sumayyah
17 JumadilAkhir 1440 H|22 Februari 2019 M

Sabtu, 09 Februari 2019

Mengubur Impian

Impian...
Semua orang pasti memilikinya.
Begitu besar khayalan dan berharap agar semuanya dapat tercapai.

Tertatih tatih demi menggapai semua mimpi.
Sampai sibuk berkhalwat kepada illahi demi tergapainya semua mimpi.

Tapi...
Apakah harus mengedepankan ego pribadi ?.
Dengan tidak memikirkan seperti apa keadaan di sini ketika pergi jauh meninggalkan sanak family.

Apakah air mata itu harus di relakan tuk terbuang ?.
Menyimpan sesaknya akan kepergian si buah hati.
Dan bagaimana menahan rindu ketika jarak mulai terhampar.

Apa yang kan terjadi bila semua yang di kerjakan tanpa adanya restu dari ummi wa abati ?.

Kini..
Sudah saatnya ku kubur semua mimpi.
Menamatkan semua cerita akan niat untuk pergi jauh menjelajahi pulau sebrang.
Dan ku relakan semua agar tak menyisakan pilu yang meradang.

Ibu,,,
Aku melihat jerih payah yang kau lakukan demi aku anakmu.
Sepeninggalnya ayah, kau lah yang mengorbankan tenaga mu dalam mengais rezeki.
Juga melihat kakak-kakak yang sudah merelakan uangnya habis demi menyelesaikan pendidikan aku sebagai saudari nya ini.

Baiklah...
Tanpa ada restu dari kalian.
Tak kan aku melangkah dan memaksakan semua inginku agar tercapai.

Kan ku pegang janjiku bahwa,
Ku kubur semua mimpi demi tetap bersama ummi.

04 Jumadil Akhir 1440 H | 09 Februari 2019 M
(Ummu Sumayyah)
Curahan hati karena tak dapat izin ke STDI :)