Jumat, 16 November 2018

Mengapa cadar ku di hina?

Ketika maraknya wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, tapi tak banyak yang mengingatkan dan menasehati mereka agar berubah.

Ketika akhirnya ada wanita yang senantiasa menjaga auratnya.
Lekuk tubuh yang tak ketara, dengan sehelai kain yang menutup wajahnya.
Banyak yang menganggapnya dengan sebutan yang menyakitkan.

Mengapa cadarku dihina.
Ketika dengannya para wanita terbebas dari fitnah.

Mengapa cadarku dihina.
Ketika dengannya kehormatan wanita tetap terjaga.

Bagi mereka cadarku hanya budaya.
Budaya Arab katanya.
Bagi mereka cadarku hanya penjaga.
Penjaga wajah dari debu katanya.

Akhirnya aku mengerti.
Ternyata islam asing ditengah muslim itu sendiri.

Andai mereka tau dengan kisah Ummul mu'minin.
Yang mana, betapa besarnya penjagaan mereka terhadap diri mereka sendiri.

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri- istri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53)

Di zaman itu saja ketika ingin meminta sesuatu kepada istri-istri nabi harus dibalik tabir. Bagaimana di zaman ini ?. Ketika antara laki-laki dan wanita dapat dengan mudahnya ber interaksi. Tak menutup kemungkinan, bahwa syaithan menggoda.

Ketika kata cinta itu berawal dari mata.
Sudah sepatutnya bahwa wanita itu menutup semua celah yang mendatangkan fitnah bagi dirinya.

Allah berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآب

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14)

Ayat di atas menjelaskan bahwa mencintai wanita dan dunia adalah fitrah manusia. Seorang laki-laki tidak dilarang mencintai wanita selama aplikasi cintanya tidak melanggar syariat. Seorang manusia tidak dilarang mencintai dunia selama kecintaannya tidak mennjerumuskan kepada maksiat. Namun sadarkah, sejatinya di balik keindahan itu semua adalah fitnah (ujian) untuk manusia?

Tak lupa mengenai ungkapan Imam Ibnu Hajar yang selaras dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan dari Usamah Bin Zaid. Beliau bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari: 5096 dan  Muslim: 2740)

Ketika wanita merupakan fitnah terbesar bagi para pria.
Masihkan cadar itu disebut sebagai budaya Arab dan penjaga wajah dari debu dan kotoran saja?.

Dan apabila para istri nabi mengenakannya dengan tujuan menjaga diri dari fitnah. Apakah kami para wanita akhir zaman yang mengenakannya salah?

Referensi 
https://muslim.or.id/19526-wanita-ujian-terbesar-kaum-laki-laki.html

📝(Ummu Sumayyah)
08 Rabiul Awwal 1440 H|16 November 2018 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar