Telah di katakan di dalam hadist nabi bahwa berhati-hatilah dalam memilih teman.
Karena teman merupakan cerminan bagi pribadi setiap insan.
Sesuai dalam sabda Rasul Salallahu'alaihi wassallam
الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ (أخيه) الْمُؤْمِنِ
Seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin (HR. Al Bukhori dan Abu Dawud)
Bahkan Rasul pun memperumpakan teman baik seperti penjual minyak wangi, dan teman yang buruk seperti si pandai besi.
Yang mana jikalau berteman dengan penjual minyak wangi, maka kita pun akan mendapat bau harum darinya, dan jikalau bergaul dengan si pandai besi, maka bisa jadi kita akan mendapat bau busuk darinya atau bahkan mendapat percikan api darinya.
Lalu, bagaimana sekiranya dengan kita?. Sudahkah mendapatkan teman yang tak hanya menjadi sahabat di dunia namun juga di jannahnya ?.
Teman baik bukan hanya membantu dalam perihal duniawi, bukan pula yang terlalu sering mengajak happy-happy tanpa mengingat akan urusan ukhrowi. Namun teman yang baik ialah dia yang selalu mengajakmu menuju ketaatan, bersama meraih surga Allah dengan meniti jalan ke taman-taman surganya. Refreshingnya berkumpul dengan teman-teman yang shalih dan shalihah, yang ketika masa futurnya tidak lari ke mall atau kongkow-kongkow yang tak ada manfaatnya. Namun masa futurnya kembali kapada Al-Qur'an dan kitab-kitab para ulama.
Bagaimana dengan yang sudah hijrah. Kemudian ia berbalik haluan. Tadinya ia hidupkan lentera hidayah, kemudian ia dayung perahu keimanan di atas muara kebenaran dengan penuh semangat dan keberanian.
Ia tersadar akan setiap kesalahan, kemudian ia bangun dari kelalaian, dan mendirikan pagar ketakwaan dengan perlahan dan keyakinan.
Namun ketika hatinya mulai melemah, dan pagar ketakwaan hampir akan tumbang, Tak segera ia sanggah. Ia mencari teman lama, lalu kembali duduk bersama mereka. Kegiatan harian pun mulai berubah. Hanya tampilan zhahir yang masih ketara.
Betapa sedihnya bila ternyata kisah ini menimpa diriku. Beranggapan bahwa hati ini kuat dalam menggenggam ilmu yang dahulu di dapatkan. Ingin kembali berkumpul dengan mereka dan yakin pada diri sendiri bahwa nanti bisa mewarnai mereka dengan sedikit bekal ilmu yang di dapatkan. Namun ternyata bukan diri ini yang mewarnai, tapi diri inilah yang terwarnai.
Semakin jauh dan jauh dari taman-taman surganya.
Telah jarang lagi terdengar nasehat-nasehat ulama.
Dan memudarnya semangat seperti dahulu kala dalam menghadiri rumah-rumah Allah Azza wa jalla.
Inilah mengapa kita harus berhati-hati dalam memilih teman bergaul. Apa yang menurut kita baik, belum tentu Allah anggap baik.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi).
📝Ummu Sumayyah
17 JumadilAkhir 1440 H|22 Februari 2019 M
Karena teman merupakan cerminan bagi pribadi setiap insan.
Sesuai dalam sabda Rasul Salallahu'alaihi wassallam
الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ (أخيه) الْمُؤْمِنِ
Seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin (HR. Al Bukhori dan Abu Dawud)
Bahkan Rasul pun memperumpakan teman baik seperti penjual minyak wangi, dan teman yang buruk seperti si pandai besi.
Yang mana jikalau berteman dengan penjual minyak wangi, maka kita pun akan mendapat bau harum darinya, dan jikalau bergaul dengan si pandai besi, maka bisa jadi kita akan mendapat bau busuk darinya atau bahkan mendapat percikan api darinya.
Lalu, bagaimana sekiranya dengan kita?. Sudahkah mendapatkan teman yang tak hanya menjadi sahabat di dunia namun juga di jannahnya ?.
Teman baik bukan hanya membantu dalam perihal duniawi, bukan pula yang terlalu sering mengajak happy-happy tanpa mengingat akan urusan ukhrowi. Namun teman yang baik ialah dia yang selalu mengajakmu menuju ketaatan, bersama meraih surga Allah dengan meniti jalan ke taman-taman surganya. Refreshingnya berkumpul dengan teman-teman yang shalih dan shalihah, yang ketika masa futurnya tidak lari ke mall atau kongkow-kongkow yang tak ada manfaatnya. Namun masa futurnya kembali kapada Al-Qur'an dan kitab-kitab para ulama.
Bagaimana dengan yang sudah hijrah. Kemudian ia berbalik haluan. Tadinya ia hidupkan lentera hidayah, kemudian ia dayung perahu keimanan di atas muara kebenaran dengan penuh semangat dan keberanian.
Ia tersadar akan setiap kesalahan, kemudian ia bangun dari kelalaian, dan mendirikan pagar ketakwaan dengan perlahan dan keyakinan.
Namun ketika hatinya mulai melemah, dan pagar ketakwaan hampir akan tumbang, Tak segera ia sanggah. Ia mencari teman lama, lalu kembali duduk bersama mereka. Kegiatan harian pun mulai berubah. Hanya tampilan zhahir yang masih ketara.
Betapa sedihnya bila ternyata kisah ini menimpa diriku. Beranggapan bahwa hati ini kuat dalam menggenggam ilmu yang dahulu di dapatkan. Ingin kembali berkumpul dengan mereka dan yakin pada diri sendiri bahwa nanti bisa mewarnai mereka dengan sedikit bekal ilmu yang di dapatkan. Namun ternyata bukan diri ini yang mewarnai, tapi diri inilah yang terwarnai.
Semakin jauh dan jauh dari taman-taman surganya.
Telah jarang lagi terdengar nasehat-nasehat ulama.
Dan memudarnya semangat seperti dahulu kala dalam menghadiri rumah-rumah Allah Azza wa jalla.
Inilah mengapa kita harus berhati-hati dalam memilih teman bergaul. Apa yang menurut kita baik, belum tentu Allah anggap baik.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi).
📝Ummu Sumayyah
17 JumadilAkhir 1440 H|22 Februari 2019 M
Tidak ada komentar:
Posting Komentar